Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan oleh mahasiswa KKN 03 UMD Universitas Jember pada tahun 2026 di Desa Sidomukti, Kecamatan Mayang, dengan sasaran siswa-siswi jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMK/MA sebagai kelompok remaja yang berada pada fase perkembangan penting dalam pembentukan nilai moral dan perencanaan masa depan. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pencegahan pernikahan dini yang masih menjadi tantangan di berbagai wilayah pedesaan. Kurangnya pemahaman mengenai dampak jangka panjang pernikahan dini terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi mendorong perlunya intervensi edukatif sejak dini.
Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode kuantitatif sederhana dengan desain pretest–posttest. Sebelum penyampaian materi, siswa-siswi diberikan pretest untuk mengukur tingkat pemahaman awal. Materi kemudian disampaikan melalui video animasi edukatif, penjelasan interaktif, diskusi singkat, dan ice breaking untuk meningkatkan keterlibatan peserta. Setelah itu, dilakukan posttest untuk melihat perubahan tingkat pemahaman. Hasilnya divisualisasikan dalam bentuk infografik diagram dua lapis untuk memudahkan interpretasi masyarakat.
Hasil pretest dan posttest dikelompokkan ke dalam tiga kategori tingkat pemahaman:
• Di bawah rata-rata (0–50)
• Rata-rata/KKM (51–70)
• Di atas rata-rata (≥71)
Klasifikasi ini digunakan untuk melihat perubahan komposisi pemahaman siswa-siswi di masing-masing sekolah, sekaligus memudahkan masyarakat memahami hasil kegiatan melalui infografik yang ditampilkan. Infografik yang ditampilkan berbentuk diagram dua lapis:
• Lingkaran bagian dalam = hasil Pretest (sebelum sosialisasi)
• Lingkaran bagian luar = hasil Posttest (setelah sosialisasi)

Berdasarkan infografik rekap tingkat SD/MI dengan total 156 siswa, komposisi pengetahuan siswa-siswi sebelum sosialisasi (pretest/lingkaran dalam) masih didominasi oleh kategori di atas rata-rata sebesar 49% (34 siswa), diikuti kategori rata-rata/KKM 29% (46 siswa), dan kategori di bawah rata-rata 22% (76 siswa). Setelah sosialisasi dilakukan (posttest/lingkaran luar), terlihat peningkatan yang lebih kuat pada kategori pemahaman tinggi: kategori di atas rata-rata meningkat menjadi 77% (120 siswa), sementara kategori rata-rata/KKM turun menjadi 8% (13 siswa) dan kategori di bawah rata-rata menurun menjadi 15% (23 siswa). Pergeseran ini menunjukkan bahwa pada jenjang SD/MI, sosialisasi melalui media video animasi edukatif mampu mendorong lebih banyak siswa mencapai pemahaman yang lebih baik terkait pencegahan pernikahan dini.

Pada jenjang SMP/MTs dengan total 130 siswa, hasil pretest (lingkaran dalam) menunjukkan kategori di bawah rata-rata masih paling besar yaitu 48% (63 siswa), disusul kategori rata-rata/KKM 28% (36 siswa), dan kategori di atas rata-rata 24% (31 siswa). Setelah sosialisasi (posttest/lingkaran luar), terjadi perubahan yang jelas: kategori di atas rata-rata meningkat menjadi 44% (58 siswa), sementara kategori di bawah rata-rata turun menjadi 28% (36 siswa) dan kategori rata-rata/KKM berada pada 28% (36 siswa) . Artinya, setelah pemberian materi, proporsi siswa-siswi dengan pemahaman tinggi bertambah signifikan dan kelompok pemahaman rendah berkurang, menandakan adanya penguatan pemahaman pada jenjang remaja awal.

Pada jenjang SMK/MA dengan total 46 siswa, kondisi awal pretest (lingkaran dalam) sudah menunjukkan basis pemahaman yang relatif baik, dengan kategori di atas rata-rata sebesar 61% (28 siswa), kategori rata-rata/KKM 24% (11 siswa), dan kategori di bawah rata-rata 15% (7 siswa). Setelah sosialisasi (posttest/lingkaran luar), tren positif tetap terlihat: kategori di atas rata-rata meningkat menjadi 70% (32 siswa), sedangkan kategori rata-rata/KKM menurun menjadi 17% (8 siswa) dan kategori di bawah rata-rata turun menjadi 13% (6 siswa). Ini memperlihatkan bahwa pada jenjang yang lebih tinggi, sosialisasi berperan memperkuat pemahaman siswa-siswi, sehingga proporsi pemahaman tinggi semakin dominan. Secara keseluruhan, rekapitulasi per jenjang menampilkan pola yang konsisten: setelah sosialisasi, proporsi kategori “di atas rata-rata” meningkat pada semua jenjang, sementara kategori “di bawah rata-rata” cenderung menurun. Hal ini mengindikasikan bahwa metode sosialisasi yang diawali pretest, penyampaian materi melalui video animasi edukatif, ice breaking, dan ditutup posttest, efektif meningkatkan dan memperkuat pemahaman siswa-siswi Desa Sidomukti terkait pencegahan pernikahan dini.
Pernikahan dini tidak hanya berdampak pada satu aspek kehidupan, tetapi dapat memengaruhi banyak hal, terutama kelanjutan pendidikan, kesiapan mental, kesehatan, dan kondisi sosial-ekonomi. Karena itu, edukasi sejak dini dinilai penting untuk membentuk pemahaman remaja mengenai keputusan hidup jangka panjang, termasuk perencanaan masa depan yang lebih baik. Melalui sosialisasi ini, siswa-siswi diharapkan semakin memahami bahwa masa remaja merupakan fase penting untuk menyiapkan diri—belajar, mengembangkan potensi, serta membangun mimpi dan cita-cita—sehingga keputusan besar seperti pernikahan perlu dipertimbangkan matang dengan kesiapan yang cukup. Dengan dukungan sekolah, orang tua, dan masyarakat, dan Pemerintah Desa Sidomukti diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi remaja untuk tumbuh, belajar, dan merencanakan masa depan tanpa tekanan pernikahan dini.